

Bonny Dwifriansyah
Gong dibunyikan tiga kali, lampu di ruang pertunjukan pun dimatikan, kecuali lampu sorot ke arah panggung. Setelah narator mengumumkan bahwa konser akan segera dimulai, seorang laki-laki berambut panjang terkuncir berjalan dari arah belakang penonton menuju ke atas panggung. Badannya yang tinggi besar dibalut jas safari berwarna hitam plus dasi kupu-kupu. Dialah Benny M. Tanto, gitaris klasik yang pernah masuk dalam 15 pemain gitar klasik terbaik dunia.
Tak banyak kalimat yang keluar dari bibirnya. Setelah memberikan ucapan selamat datang dan selamat menikmati konser kepada penonton, Benny pun mengambil posisi duduk ala pemain gitar klasik. “Lagu yang pertama saya mainkan ini berjudul “Valse Criollo & Valse Venezolano” nomor dua karya Antonio Lauro. Lagu ini saya persembahkan kepada gitaris Josef Hendriquez asal Spanyol yang dulu pernah menjadi guru master class saya,” tuturnya sesaat sebelum hanyut dalam petikan-petikan senar gitarnya.
Selesai lagu pertama dan diikuti tepuk tangan penonton,
Benny melanjutkan konsernya dengan membawakan lagu-lagu berikutnya. Setiap akan
memainkan sebuah lagu, Benny selalu menuturkan kalimat bahwa lagu yang akan ia
bawakan dipersembahkan kepada salah satu master
class-nya. Ada
juga salah satu lagu yang ia persembahkan untuk ibunya. “Lagu yang berikut ini
saya persembahkan untuk ibunda tercinta saya yang telah meninggal delapan tahun
lalu,” kata Benny.
Total ada 15 lagu yang dimainkan Benny untuk memperingati perjalanan konser gitarnya selama 25 tahun itu. Benny menampilkan lagu-lagu dari zaman Romantik yang pernah dibawakan oleh gitaris-gitaris terkenal di era tahun 1970-1990.
Dari 15 lagu itu, sebanyak 13 lagu ia mainkan secara solo. Sedangkan dua lagu lainnya, yakni “Quartet in D” karya G.P. Telemann dan “Concerto En Re Majeur” karya Antonio Vivaldi, dimainkan Benny bersama dengan 26 siswa National Guitar Orchestra (NGO).
Benny mengaku cukup puas atas konsernya malam itu. “Pertunjukan malam ini cukup sukses karena penonton yang hadir cukup banyak. Biasanya, penontonnya yang datang ke konser macam ini adalah orang yang sudah tua-tua. Tapi kali ini banyak penonton yang masih muda-muda. Dan saya yakin pasti banyak pemain gitar andal di antara penonton muda-muda ini,” tutur Benny.
Benny M. Tanto meraih gelar S-1 dari Institut Kesenian Jakarta pada tahun 1987. Ia melanjutkan studi di Chapman School of Music, Amerika Serikat, dan meraih gelar Master of Music dalam bidang Classical Guitar Performance dengan pembimbing Jeff Cogan pada tahun 1994.
Benny pernah mengikuti master class yang diselenggarakan oleh para pemain gitar tingkat akbar seperti John Williams, Julian Bream, Oscar Ghilia, dan lain-lain. Ia telah melakukan konser di berbagai negara bagian Amerika Serikat, Kanada, Meksiko, dan Filipina.
Salah satu puncak dalam karirnya adalah turut tampil dalam kompetisi yang diadakan oleh Guitar Foundation of America di New Orleans, Louisiana. Di kompetisi itu, ia berhasil masuk dalam kategori 15 pemain gitar klasik terbaik.
Sekembalinya ke Indonesia, Benny menjadi dosen gitar di Institut Kesenian Jakarta, Universitas Pelita Harapan, serta mengajar di Yayasan Pendidikan Musik. Di Jakarta, baik sebagai solis maupun ensambel, Benny pernah tampil dalam acara Persatuan Persahabatan Indonesia-Amerika serta di gedung-gedung kesenian macam The British Council, Goethe Institute, Erasmus Huis, Taman Ismail Marzuki, Gedung Kesenian Jakarta, Universitas Pelita Harapan, Amir Pasaribu Concert Hall SM YPM, dan Teater Luwes IKJ.
Pada tahun 2003, Benny meraih penghargaan bergengsi dari Yayasan Pendidikan Musik berupa Golden Anniversary Artist Teacher Award dan Golden Anniversary Award. Pada tahun 2005, ia terpilih sebagai tokoh seniman dalam buku “Tokoh Indonesiaku Dalam Visi Mampu Bekerja dan Berkarya”.
Foto by: Dhoni Setiawan/KOMPAS
More Events