

pasarkreasi.com
Memasuki ruang pameran fotografi “Dari Masa ke Masa” di lantai dasar Senayan City bak memasuki ruangan studio foto yang panjang. Lantainya ditutupi karpet merah tua. Panel-panel berwarna hitam legam tempat men-display foto disusun berbaris sejajar. Tiap-tiap sisi pada panel setinggi lebih dari dua meter itu ditongkrongi satu atau dua buah foto yang terbingkai dalam bentuk dan warna yang sama.
Ada pula beberapa buah foto yang terbingkai dalam ukuran sedikit lebih besar dibanding bingkai lainnya. Meski demikian, masing-masing foto itu mendapat asupan cahaya yang sangat pas dari lampu yang menggantung di atasnya.
Pada pameran yang digelar
dalam rangka memperingati ulang tahun Lembaga Fotografi Candra Naya (LFCN) yang
ke-60 ini, para pengunjung akan menikmati 132 foto hasil karya 60 fotografer
“jebolan“ LFCN. Sebagai club foto tertua di Jakarta dan pernah memberikan
sumbangsih yang besar bagi khazanah fotografi di Tanah Air (terutama pada tahun
1970-1980-an), LFCN kali ini menampilkan karya foto yang beragam, hasil para
pemotret baru dan “jadul”.
Di antara sekian banyak foto yang dipajang di pameran yang melibatkan fotografer antargenerasi ini, ada beberapa buah foto karya Johnson Handra, fotografer Indonesia yang sekarang bermukim di Hong Kong. Karyanya berupa foto-foto tentang burung di atas ranting pohon itu mirip sekali dengan lukisan Cina, baik dalam hal warna, bentuk, maupun komposisinya. Padahal, foto-foto itu dibuat selama 10 tahun dengan menggunakan kamera analog (film). Maklum, dulu belum ada kamera digital.
Konon, foto-foto hasil jepretan Johnson Handra itu dulunya diajukan untuk ujian gelar tertinggi, yaitu Fellowship dari Royal Photographic Society (UK). Bahkan, hasil karya foto semacam itu dianggap tidak pernah dibuat oleh fotografer lain sebelumnya.
Di salah satu jajaran panel, terdapat sebuah foto berjudul “Compartment No. 14, 1958” yang merupakan hasil karya Lay Kie Kong, fotografer tertua dalam pameran ini (80 tahun).
Bagi pengunjung yang merasa belum puas menikmati pameran fotografi yang merupakan perpaduan hasil kamera “jadul” dengan kamera era digital ini, disediakan buku katalog berjudul “Dari Masa ke Masa, 1948-2008” seharga Rp 50.000. Di dalam buku setebal 71 halaman dan tampil full color itu juga terdapat foto-foto anggota club fotografi lainnya serta para tamu yang juga fotografer profesional.
Lembaga Fotografi Candra Naya terbentuk melalui proses yang sangat panjang. Pada tahun 1946, ada sebuah lembaga sosial yang bernama Sin Ming Hui. Lembaga ini memiliki sebuah kegiatan dalam bidang seni lukis. Pada perkembangannya, sebagian penggiat seni lukis itu meminta diadakan pelajaran khusus mengenai fotografi. Maka pada bulan Mei tahun 1948, seorang anggota Sin Ming Hui bagian seni lukis mulai menyebarluaskan pelajaran fotografi kepada para anggota lainnya. Akhirnya mereka membentuk sebuah kelompok fotografi yang merupakan bagian dari seni lukis.
Seiring berjalannya waktu, kelompok fotografi itu berubah menjadi Lembaga Fotografi Candra Naya dan dikenal luas sebagai lembaga pendidikan yang telah menghasilkan fotografer-fotografer ternama Indonesia saat ini. Bahkan, anggota-anggotanya sejak 30 tahun lalu sudah menyandang prestasi, baik di tingkat nasional maupun international. Tak heran bila lembaga ini ikut membentuk seni foto Indonesia hingga sekarang.
Teks: Bonny Dwifriansyah
Foto: Handy Loekito
More Events