
pasarkreasi.com
Pasarkreasi, Jakarta. Riri Riza, Mira Lesmana, bersama Dian Sastro, Nicholas Saputra, Donny Alamsyah, Dwi Sasono, Butet Kertarejasa baru saja merampungkan film berjudul Drupadi, sebuah karya sinema yang menggabungkan seni peran, musik, dan tari : sesuatu yang baru di dunia perfilman Indonesia.
Film yang naskahnya ditulis oleh Leila S. Chudori diangkat dari kisah klasik Mahabharata karya Mpu Vyasa. Jika lazimnya Mahabharata berkisah perseteruan Pandawa dan Kurawa, maka film ini memilih sudut pandang Drupadi sebagai pusat penceritaan. Drupadi sendiri adalah gadis cantik yang menikah dengan 5 orang Pandawa.
Drupadi digambarkan sebagai seorang puteri tercantik di seluruh jagad. Karenanya, ksatria- ksatria dari seluruh penjuru ikut berlomba memperebutkannya. Dalam sebuah sayembara memanah, Arjuna berhasil memenangkan pertandingan. Namun karena takdir, Drupadi menjadi isteri dari Pandawa.
Di sebuah permainan dadu, Drupadi dijadikan taruhan oleh suaminya sendiri. Drupadi menolak dijadikan komoditas. Hal inilah yang kemudian memunculkan peperangan Bharatayudha yang dahsyat.
Mengenai akar cerita, ada banyak versi yang muncul dari kisah Mahabharata ini. Leila S. Chudori mengambil beberapa versi dari novel Mahabharata karya P.Lal, N.K. Narayan, dan Ramesh Menon.
Perempuan dan human traficking
Menghabiskan biaya Rp 1 milyar, film ini menyuguhkan pelajaran, khususnya soal perempuan. Ini juga yang menjadi alasan mengapa Dian, yang juga menjabat produser, memiliki ide tersebut.
“Mengapa Drupadi? Karena sosok Drupadi adalah simbol dari perjuangan perempuan yang menolak dijadikan komoditas dan selalu bertindak untuk memanusiakan dirinya,” tutur Dian. Ia juga bicara soal keresahannya terhadap kasus human traficking yang kian menjadi, yang seperti kita ketahui, tidak cuma terjadi di seputar Jawa, tapi juga Papua. Kabar terakhir, tercatat 800-1000 wanita, termasuk anak, diperdagangkan ke Papua.
Selain
soal pesan, film yang kabarnya akan berdurasi 30-40 menit (pendek) ini juga
menjadi gambaran terhadap perkembangan level film Indonesia. Leila menyebutkan bahwa
dialog-dialog yang dihadirkan begitu puitis, namun tidak sulit untuk dicerna.
Bagi Mira Lesmana, membuat Drupadi adalah “tantangan untuk menyatukan suatu cerita yang memiliki sentuhan tradisi dan memberikan elemen kontemporer.” Dengan latar belakang Jawa klasik, kostum para tokoh pada film ini dipadu dengan berbagai elemen daerah lain, misalnya Sumatra
Soal gaya perwayangan yang penuh percampuran, Citra Subayakto selaku penata kostum berkomentar, “Kalau ada yang takut percampuran gaya ini membuat orang jadi tidak tahu, misalnya, mana wayang Yogjakarta dan mana yang Solo, kita memang tidak lagi mengotak-kotakan. Itu cara pikir orde lama.Yang ini Drupadi-nya Indonesia.”
Terkait dengan kisah cerita ini, intrepretasi setiap orang akan berbeda-beda. Seperti yang disebutkan Leila S. Chudori, sebenarnya kita memang bisa bebas dan tidak masalah untuk mengungkapkannya melalui sudut pandang yang berbeda-beda. “Bahkan karya pengarang-pengarang ini juga merupakan intrepretasi,” tukasnya.
Film Drupadi
akan diputar di Jakarta International Film Festival (JIFFEST) Desember 2008.
Words: Imron
Photography:
Anton Ismael
More News