
Admin
Kata-kata dari Professor Hershel Layton ini tentunya akrab didengar oleh gamer yang berkesempatan memainkan Professor Layton and the Curious Village. Dirilis pada tahun 2008 lalu, game pertama yang bertokoh utamakan Sherlock Holmes dunia Puzzle beserta Luke sang asisten mudanya langsung mendapatkan kesuksesan luar biasa. Gamenya terjual laris manis di pasaran mencapai hampir 1 Juta kopi (angka yang sangat tinggi untuk sebuah game puzzle) dan memenangkan berbagai penghargaan. Walau begitu, demam publik barat sebenarnya sudah terlambat. Seperti kasus Phoenix Wright, kendati gamer barat baru sempat mencicipi satu game Layton, ia sudah sangat populer di Jepang dengan tiga game yang sudah dirilis, satu yang akan dirilis dan bahkan sudah direncanakan sebuah film animasi Layton. Tidak melepas kesempatan baik ini, Level-5 segera mentranslasikan gamenya dan tidak sampai dua tahun kemudian petualangan keduanya yang bertajuk Professor Layton and the Diabolical Box (atau Pandora’s Box di negara tertentu) pun muncul. Professor Layton and the Diabolical Box (Diabolical Box) masih menawarkan formula yang sama dengan prekuelnya. Sebagai Layton dan Luke, kamu harus berpetualang memecahkan teka-teki demi teka-teki, semuanya guna menyibak tirai mengenai misteri Elysian Box yang menjadi tema sentral game ini. Petualangan duo ini membawa mereka ke berbagai lokasi eksotik di Eropa - lengkap dengan kebudayaan dan kegiatan unik khas dunia Layton. Puzzle-puzzle yang ada pada game ini lebih dari 150, termasuk bonus yang diberikan setelah kamu menyelesaikan permainan. Selain lebih banyak dari puzzle yang disediakan di Curious Village, Diabolical Box juga menawarkan ragam puzzle untuk kamu selesaikan. Variasinya bermacam-macam mulai dari ilusi mata sampai puzzle logika. Yang jelas, semuanya menantang. Sistem kontrol dalam Diabolical Box juga mimik persis dari Curious Village dan itu adalah hal yang bagus karena Curious Village memiliki kontrol yang sangat solid. Semua input dalam game ini dilakukan dengan stylus dan touch screen, dari mengontrol pergerakan Layton sampai memasukkan jawaban untuk puzzle-puzzlenya. Satu fitur tambahan yang sederhana tapi berguna dalam game ini adalah fasilitas Memo yang membolehkan kita ‘mencoret-coret’ layar DS kita. Sangat berguna untuk menandai bagian tertentu adalah melakukan hitung-hitungan sederhana sebelum menyelesaikan puzzle yang disodorkan game ini. Tentunya tidak semua aspek dalam Diabolical Box persis dengan Curious Village. Tercatat ada tiga jenis mini-game yang bisa kamu mainkan. Yang pertama merakit kamera dengan bagian-bagian yang kamu dapatkan dari menyelesaikan puzzle tertentu, yang kedua adalah membuat teh dengan meramu-ramu bahan teh, dan yang terakhir sekaligus yang terunik adalah mengajak seekor hamster gendut berolahraga dengan memberinya berbagai macam alat yang memotivasi dirinya untuk bergerak. Semua mini-game ini memang simple, tetapi bila diselesaikan akan memberi hadiah spesial untukmu. Salah satu nilai plus dari serial Professor Layton adalah design karakter dan animasinya yang unik seperti blender dari kebudayaan barat dan timur. Sekali lagi Level-5 berhasil menghidupkan nuansa itu, bahkan mengembangkannya jauh lebih luas lagi. Bila sebelumnya di Curious Village kamu hanya ‘dibatasi’ menjelajah di satu desa, Diabolical Box membawamu berkelana berkeliling Eropa di atas sebuah kereta super mewah. Kualitas audionya juga di atas rata-rata. Walau beberapa musiknya mendaur ulang Curious Village (terutama bagian puzzle), kualitas voice-acting game ini tetap terjaga. Banyak sekali dialog yang disertai dengan voice-acting dalam game ini dan semuanya berkualitas luar biasa. Saya terutama angkat jempol untuk pengisi suara Professor Layton, bisa dibilang suara baritonnya itulah yang membantu membangun citra Layton sebagai seorang gentlemen sejati. Bicara panjang lebar mengenai aspek teknis game ini, saya sampai lupa menuliskan apa inti cerita darinya. Suatu hari, Professor Layton menerima sebuah surat dari sahabat sekaligus mentornya Dr. Schrader. Dalam surat tersebut Dr. Schrader mengatakan bahwa ia menemukan sebuah kotak bernama Elysian Box. Layton menjadi khawatir dan berharap bahwa Dr. Schrader tidak langsung membuka kotak tersebut sebab ada rumor bahwa siapapun yang membuka kotak tersebut akan tewas. Kekhawatirannya terbukti. Ketika Layton dan Luke sampai di apartemennya, sang dokter sudah tergeletak tak bernyawa. Satu-satunya petunjuk yang mereka temukan di sana adalah tiket naik kereta eksekutif Molentary Express. Apa kaitan dari kematian Dr. Schrader, kereta Molentary Express, dan Elysian Box? Mainkan sendiri game ini untuk menemukan jawaban dari semua misteri tersebut! Final Verdict Gameplay: 9.0Daya tarik utama game ini adalah berbagai rupa puzzle yang menantang otak kita berpikir. Menyelesaikan sebuah puzzle setelah berjam-jam mengutak-atiknya memberikan kepuasan tersendiri. Selain itu, jalan cerita yang penuh misteri pun terus memikat kita untuk melanjutkan petualangan Layton menyibaknya. Graphic / Sound: 9.5Selain sedikit kekurangan pada beberapa track musik yang dipakai ulang (tetapi tetap fantastis dengan nuansa Eropa yang ditonjolkan) saya benar-benar tidak bisa mencari kelemahan apapun. Great job Level-5. Wonderful graphic, superb voice-acting, what else can I ask? Play Time: 8.0Kalau kamu benar-benar ingin menyelesaikan setiap puzzlenya dengan jujur, kamu bisa menghabiskan lebih dari 20 - 30 jam untuk menamatkan game ini (tergantung dari - ehem - seberapa tajamnya otakmu). Tapi sekali kamu sudah menyelesaikan game ini memainkannya ulang takkan sulit lagi sebab bukankah setiap teka-teki tak lagi menarik begitu kau bisa memecahkannya? Overall: 8.9 Game DetailsDeveloper: Level-5Publisher: NintendoGenre: Puzzle Adventure Sumber:tukangreview.com
More News