Pasar Kreasi
Graphic Design

Mengingat Lagi Tatang S. dan Komik Petruk-Gareng

Peace

Peace
Waktu kamu masih di sekolah dasar, pasti kamu pernah dengar atau baca komik Petruk-Gareng . Itu, lho, si Petruknya yang hidungnya panjang dan biasa pake baju garis-garis hitam-putih, sedangkan Gareng yang hidungnya bulat. Ingat? 

Kemasannya komiknya sederhana banget, kok. Cuma beberapa halaman dari kertas bungkus `roti`, dan ceritanya kocak. Yang paling banyak biasanya soal hantu,
dari pocong, wewe gombel, sampai genderuwo. Bukan soal kemasannya yang mau diomongin di sini, tapi soal pengarangnya. Kamu ingat siapa nama pengarangnya? Yup, betul.

Tatang S.
 Tatang S. atau bernama lengkap Tatang Suhenra sudah kadung populer dengan komik Gareng-Petruknya. Komik Petruk-Gareng bikinan Tatang S. ini benar-benar jadi hits di era 80-an. Tokoh Petruk dan Gareng sebenarnya bukan tokoh baru di dunia komik Indonesia. Jauh sebelum Tatang, sudah banyak juga yang membuat komik dari tokoh punakawan dalam cerita pewayangan ini, misalnya saja HAB, Hidayat Sujana, Rachman, Rowing, Rini A.S, dan tentu saja Indri S. Meski demikian, Petruk-Gareng garapan Tatang jadi yang paling eksis. Kenapa? Salah satu alasannya karena komik Petruk-Gareng-nya ini sanggup bertahan melintasi berbagai generasi. Keunikan karakter dan kesederhanaan cerita yang dibawakan juga menjadi nilai plus Tatang dengan Petruk dan Gareng. 

Saya ingat waktu masih di sekolah dasar. Saya sempat mengoleksi beberapa judul. Komik itu jadi semacam bacaan wajib baca diperjalanan
menuju rumah sepulang sekolah. Ceritanya sederhana dan pasti lucu. Nggak sulit untuk memahaminya. Yang paling saya ingat adalah tokoh wewe gombel atau genderuwonya yang kelewat menyeramkan untuk anak seukuran saya saat itu. Untuk ukuran anak sekolah dasar yang baru bisa baca, cerita-cerita yang dibawakan Petruk-Gareng terbilang mudah dimengerti.   

Bicara soal Tatang, tak banyak informasi yang bisa dihimpun. Dari sekian ribu situs yang ada di internet, tak banyak ulasan tentang seniman besar ini. Paling-paling kabar tentang kematiannya beberapa tahun lalu, dan sekelumit coretan di blog tetang pengalaman membaca komik Petruk-Gareng. Jadilah, Tatang sosok yang penuh misteri dan rumor. Di balik kegemilangan karya dan idenya, Tatang S. kerap dihinggapi kisah-kisah miring mengenai perilakunya. 
 

Kabarnya, pada era 70-an, berkat karya-karyanya yang populer, Tatang S pernah menjadi komikus yang honornya paling tinggi di Bandung. Ia hadir di semua periode komik Indonesia, mulai dari era komik silat era 60—70-an, Punakawan (Petruk-Gareng) pada era 80-an, hingga era komik agama (surga-neraka) pada era 90-an. Sayangnya, karena ambisinya terlalu besar, ia sering berselisih dengan rekan-rekannya. 
 

Puncaknya, berawal dari pindahnya Ganes TH (komikus yang membuat Si Buta dari Gua Hantu) ke penerbit lain. Penerbit yang ditinggalkan sakit hati. Si penerbit tersebut kemudian merekrut Tatang S untuk membuat tandingan Si Buta dari Gua Hantu. Tatang S menerimanya, ia lalu membuat Si Gagu dari Goa Hantu. Perkomikan nasional langsung heboh dengan terbitnya komik ini. Hasilnya, Si Gagu dibredel, hanya sempat terbit tiga edisi. Belum selesai sampai di situ, sejak itu karier Tatang sebagai komikus silat hancur karena menjadi korban permainan penerbit. Hal tersebutlah yang membuat Tatang pindah ke Jakarta, dan kembali berkomik. 
 

Selanjutnya, era 80-an, derasnya komik dan bacaan asing yang masuk ke Indonesia, membuat banyak penerbit memilih menerbitkan komik terjemahan. Kondisi ini membuat banyak komikus banting setir. Tatang tetap berkomik bersama penerbit kecil di bilangan Pasar Senen bernama Gultom Agency. Meski `bermain` di bacaan kelas menengah ke bawah, oplah cetaknya bisa mencapai 10.000 eksemplar. Di sanalah Tatang mulai membuat komik Gareng-Petruk dan kembali eksis dalam kancah komik.
 

Layaknya seleb saat ini, hingga akhir hidupnya, Tatang tak lepas dari rumor. Kabarnya, Tatang meninggal karena kencing manis. Ada cerita yang menyebutkan bahwa penyakit tersebut muncul dari kebiasaan Tatang bekerja di malam hari dan terlalu banyak minum cola. Selesai sampai di situ? Tidak. Masih ada rumor yang tak kalah heboh tentang Tatang. Kabarnya, nama Tatang S itu bukan nama asli. Itu nama hoki. Bahkan, kabarnya Tatang S pernah mengganti nama cover menjadi Monik, Ronny, atau Rena. Tujuannya? Agar pembaca tidak bosan. Meski demikian, nyatanya, nama Tatang S. yang paling laku. Tapi, sudahlah. Yang jelas, nama Tatang S. adalah legenda sekaligus pengalaman menyenangkan saat masa kecil menghabiskan waktu di kamar, ketawa-ketiwi membaca komik Gareng-Petruk.
 

Tatang S. memang sudah meninggal, tepatnya 27 April 2003 lalu. Meski demikian, hasil kerjanya yang tak kenal menyerah itu menjadi kenang-kenangan
berharga buat saya sampai hari ini. Salute dengan semangatnya yang gila! Bayangkan saja, di saat komik dari luar negeri deras membanjir, ia tidak ambil pusing dan tetap membuat komik sampai akhir hayatnya. Ia telah mendedikasikan hidupnya untuk komik. Kabarnya, selain sangat produktif, ia juga peneliti lingkungan kontemporer yang peka.

Lebih jauh mengagumi master piece Tatang ini, ada banyak hal yang bisa kita bicarakan. Coba ingat-ingat lagi, deh. Dari begitu banyak masukan dan informasi tentang Tatang S. dan komik Petruk-Gareng, Inilah yang berhasil saya himpun: 

Ciri Khas Tokoh Gareng-Petruk
Dengan tema cerita yang beragam dan sederhana, mulai dari soal pekerjaan, pacar, korupsi, uang, sampai horor, komik Petruk-Gareng karya Tatang memang unik. Petruk dan Gareng sendiri  menggambarkan ciri orang pinggiran kota, punya impian, harapan, sekaligus kesialan rakyat kecil yang tergilas oleh pembangunan yang kejam. Petruk-Gareng sering diceritakan sebagai pengangguran, kerja serabutan, suka utang, dan rajin memancing ikan untuk mengisi waktu luang. Meski selalu `tong-pes`, mereka adalah anak muda yang menantikan malam minggu untuk `ngapel` pacar-pacar mereka; fashionable, perayu ulung, dan cinta tanah air. Karena rajin meronda setiap malamnya walau sering diganggu makhluk halus—bagian ini kemudian kerap menjadi ide utama cerita tersendiri komik Petruk-Gareng. 

Dari Pocong Sampai Tuyul
Tatang S. punya jurus hebat untuk meraih hati pembaca komik garapannya. Salah satunya adalah dengan mengambil cerita-cerita yang dekat dengan kehidupan pembacanya. Itu dibuktikan dengan hadirnya tema-tema horor yang menampilkan makhluk halus dalam lakon Petruk dan Gareng. 

Tinggal di Kampung Tumaritis, Petruk dan Gareng adalah sosok yang riang, ramah, `sotoy`, pemberani sekaligus penakut, dan percaya hal-hal mistik. Lihat bagaimana kocaknya ketika keduanya bertemu wewe gombel, pocong, atau genderuwo sepulang mengantarkan cewek yang baru dikenalnya. Atau, cewek yang digodanya ternyata berubah menjadi makhluk menyeramkan dan bikin `sport jantung`. 
 

Uniknya, penggambaran makluk halus ala Tatang ini sungguh sederhana, sesuai dengan pendapat umum. Ambil contoh wewe gombel, di komik-komik Petruk-Gareng kerap digambarkan sebagai makluk besar, lidah menjulur, mata melotot, bertaring, dan payudara besar menggelantung ditutupi rambut yang menjuntai hingga kaki. Begitu sederhana, tapi cukup bikin deg-deg-an pada saat saya membacanya saat kecil. Lain dari itu, para makhluk halus tersebut kerap digambarkan hadir pada malam hari, utamanya Jumat Kliwon.  
 

Meski mengangkat tema cerita horor dengan ilustrasi makhluk yang menyeramkan, komik-komik Petruk-Gareng ini laris manis di pasar. Bacaan ringan yang menghibur, utamanya dengan kekocakan laku Petruk dan Gareng sebagai tokoh utama dan Semar sebagai sang bijak. Di situlah kekuatan komik Petruk-Gareng edisi horor garapan Tatang; Tatang mampu menggubah nuansa horor menjadi lucu, tapi tetap berkesan.
 

Teknik Gambar, Cerita dan Kesederhanaan Tatang
Teknik gambar dengan goresan dan siluet hitam-putih nan sederhana, ditingkah cerita dan banyolan norak khas jamannya, justru menjadi ketagihan tersendiri setiap menikmati komik Petruk-Gareng. Selain itu, layaknya seniman yang bertanggung jawab dengan karyanya, Tatang selalu muncul dengan petuah bijak yang diutarakan lewat tokoh-tokohnya. Petuah Tatang sangat positif untuk siapapun, dari anak-anak hingga orang dewasa. Karena dikemas dalam cerita sederhana dan keseharian (cerita yang dekat dengan pembaca), petuah itu tidak terkesan menggurui.  

Ciri khas lainnya, Tatang rajin mengirim salam untuk seseorang melalui komik-komiknya. Hmm, untuk kebiasaan yang satu ini, nyatanya cukup populer di era kejayaan komik kita (kirim-kirim salam). Selain salam-salam itu, Tatang juga punya ungkapan khas yang menjadi trade mark-nya dan selalu muncul di komik Petruk-Gareng-nya, yaitu "Salam manis tak akan habis, salam sayang tak akan hilang buat semua pencinta karya saya". Sungguh seniman besar yang humble
 

Superhero di Mata Tatang
Di samping cerita keseharian dan horor, tema superhero juga kerap menjadi ide cerita Tatang yang dituangkan dalam komik Petruk-Gareng. Superhero adalah orang yang memiliki kemampuan super dan berjiwa heroik. Hal ini cocok untuk Gareng dan Petruk yang lugu dan polos. Uniknya, dengan sentuhan Tatang, superhero-superhero itu menjadi konyol meski juga kerap menolong orang-orang yang kesusahan. Contohnya bisa Anda lihat saat Petruk menjadi Batman Tumaritis. 

Tidak hanya menjelma Batman, Petruk dan Gareng bisa mewujud apa saja, mulai dari Goshogun, Street Hawk, Megaloman, Ksatria Baja Hitam, dan lain-lain. Namun, tentu saja sudah dilokalkan oleh si empunya komik. Kasusnya pada Street Hawk. Versi aslinya bercerita tentang polisi bernama Jessie Mach yang menjalani tes rahasia proyek pemerintah bernama Street Hawk. Norman Tuttle adalah rekannya yang mendisain sepeda motor di proyek ini. Jessie yang menjalankan motor melintasi jalanan Los Angeles, sementara Norman di komputer memberi komando. Berdua mereka memerangi kejahatan di Los Angeles. Sementara dalam versi Tatang, Gareng yang mengendarai motor, sementara Semar memberi komando dari komputer. Berdua mereka memerangi kejahatan di Pamanukan, Subang. Selain memerangi kejahatan, Street Hawk juga mengantar pak guru Petruk agar tidak terlambat ke sekolah. 
 

Figur Orang-orang di Hukum Tuhan
Tidak hanya komik Petruk-Gareng yang menjadi perhatian saat mengulas nama Tatang S., komik surga-neraka garapan seniman inipun menarik untuk dibicarakan. Tatang adalah satu dari sekian banyak komikus yang mengangkat tema religi, utamanya surga-neraka. Komik-komik bertema surealis ini marak di era 90-an awal. Digambarkan, surga berisi orang-orang yang penuh kedamaian, sementara neraka dipenuhi orang-orang tersiksa dengan berbagai hukuman yang mengerikan.  

Dengan imajinasi tentang neraka dan surga, Tatang melalui komik-komiknya kerap menghadirkan cerita stereotipe mengenai orang-orang yang dihukum oleh Tuhan akibat perbuatannya semasa hidup di dunia, misalnya: ingkar terhadap Tuhan, durhaka, korupsi, munafik, dan tabiat buruk lainnya. Penggambaran ini dapat disimpulkan sebagi wujud keprihatinannya terhadap situasi negeri ini.
 

*dari banyak sumber


Print
Kirim
Cetak PDF
Arsip
RSS


  More News
.
Bagaimana memulai belajar Desain Grafis? Memang itu sebuah pertanyaan yang sangat mendasar bagi seorang desiner pemula.

.
Program ini sering digunakan untuk keperluan pembuatan brosur, pamflet, booklet, poster, dan lain yang sejenis.

RSS