

tokohindoneisa.com
Insinyur Sutjipto, penemu teknik fondasi sarang laba-laba,
ini lebih populer sebagai politisi ketimbang bidang konstruksi keahliannya.
Nama pria kelahiran Trenggalek ini mencuat kepermukaan saat terjadinya konflik
dalam tubuh PDI Jawa Timur. Sutjipto memilih mendukung DPP PDI pimpinan
Megawati Soekarnoputri. Pilihan ini mengantarkannya menjabat Sekjen PDI-P dan
Wakil Ketua MPR.
Mantan bendahara DPD PDI Jawa Timur ini menjadi Ketua PDI Jawa Timur menurut SK
043 yang dikeluarkan Megawati Soekarnoputri, menggantikan Latief Pudjosakti.
Kubu Latief yang ‘berpihak’ pada pemerintah Orde Baru menolak pengangkatan
Sutjipto. Jadilah kepengurusan ganda DPD Jawa Timur. Sutjipto yang berlatar
``pekerja intelektual`` ini sesungguhnya orang yang cukup berpengaruh dalam
sukses PDI Jawa Timur menambah lima kursi tambahan pada Pemilu 1992 sebelumnya.
Ia pun memimpin kader dan simpatisian PDI di Jawa Timur melawan campur tangan
pemerintah dalam tbuh PDI. Dia pun memindahkan markas PDI ke kantor CV Bumi
Raya, perusahaan jasa konstruksi miliknya. Sebab kantor lama masih dikuasai
kubu Latief Pudjosakti. Sebuah bentuk perlawanan kepada pemerintah yang
otoriter sekaligus sebagai wujud dukungan kepada kepemimpinan Megawati yang
didukung oleh arus bawah.
Pilihannya membela dan menjunjung demokrasi itu, telah mengantarkan lulusan
Insitut Teknologi Surabaya (ITS) yang kemudian menemukan teknik fondasi sarang
laba-laba, ini menjadi seorang politisi kaliber nasional. Ahli konstruksi yang
temuannya antara lain dipakai di Bandara Hang Nadim, Batam, ini akhir lebih
mengalir bicara politik ketimbang bidang konstruksi yang juga digelutinya.
Memang, kehidupan politik (berorganisasi) bukan hal baru baginya. Sejak di SMA
tahun 1964, ia sudah aktif di Gerakan Siswa Nasional Indonesia. Kemudian saat
kuliah di ITS, ia aktif di Komisariat Gerakan Mahasiswa Nasional
Indonesia,hingga menjabat menjabat wakil sekretariat GMNI Jawa Timur (1971). Pada
tahun 1986, ia pun mulai aktif di PDI. Lalu, dua tahun kemudian terpilih
sebagai bendahara PDI Jawa Timur.
More Who's Who