Pasar Kreasi
Graphic Design
Aprilia Kartini Streit

Bomberwati dari Kampus

Aprilia Kartini Streit

 

 


Graffiti dan mural bukanlah “barang mainan” khusus laki-laki. Kegiatan corat-coret pada dinding yang biasanya dilakukan pada malam hari ini ternyata juga bisa diakrabi kaum Hawa. Aprilia adalah salah satunya. Perempuan yang bernama lengkap Aprilia Kartini Streit ini malah sudah belasan tahun berkutat dengan cat semprot atau yang biasa disebut piloks, serta bergaul dengan seniman-seniman di berbagai komunitas khusus graffiti.

Aprilia akrab dengan graffiti dan mural sejak ia masih kuliah di Yogyakarta, yakni sekitar tahun 1995. Semua ia hanya iseng mencoret-coret dinding kamar kos, lalu lama-lama “ketagihan”. “Tapi awal saya benar-benar terjun untuk membuat mural atau graffiti sekitar tahun 1996. Waktu itu saya terpengaruh oleh mahasiswa saya di STIKOM Interstudi,” tuturnya mengenang.

Dosen di Fakultas Desain Komunikasi Visual & Painter Universitas Persada Indonesia YAI ini juga memiliki hobi melukis. Dan hobi melukis ini sudah ia lakoni sejak masih kecil. Karena itulah kemudian si cantik kelahiran Jakarta, 1 April, ini mengambil jurusan seni saat memasuki dunia perkuliahan.

Buat saya, beralih dari seni lukis ke graffiti tidak terlalu sulit, karena perbedaannya hanya sebatas ruang atau space saja,” katanya. Tentang karya-karya lukisnya, seniwati berkacamata ini mengaku hanya membuat lukisan untuk kalangan tertentu saja, tidak untuk dipublikasikan di tempat umum.

 

Meski demikian, perempuan yang juga mengajar di Universitas Bunda Mulia dan STIKOM Interstudi ini lebih menyukai graffiti dan mural karena jangkauannya lebih luas, lebih unik, dan memiliki tantangan tersendiri. ”Bahkan para seniman graffiti juga mempunyai komunitas-komunitasnya sendiri,” ujarnya.

Tentang mural dan graffiti, penyandang gelar Master of Art Institut Seni Indonesia Yogyakarta ini mempunyai definisi sendiri. “Mural adalah seni lukis pada dinding. Biasanya si pembuat mural menggunakan cat tembok. Jenis seni ini pun sebenarnya sudah sangat tua. Berbeda halnya dengan graffiti. Menurut saya, sebenarnya graffiti adalah seni urban di mana para pelaku atau senimannya adalah para pemberontak yang tidak puas terhadap keadaan dan tidak mempercayai sistem yang sudah ada,” tuturnya.


Sakit Hati kepada Pemda

Aprilia mengaku tak bisa menghitung berapa jumlah graffiti dan mural yang sudah ia “telurkan”. Ada juga beberapa karyanya yang hilang karena dihapus oleh pemda setempat. Ihwal karyanya yang hilang itu, dalam blog-nya yang beralamat di http://apriliacantik.blogspot.com, Aprilia bercerita bahwa mural yang ia buat pada dinding salah satu pilar flyover di perempatan Kuningan, Jakarta Selatan, ternyata dimuat di koran The Jakarta Post pada tanggal 21 Februari 2007. Karena itulah Aprilia menganggap mural tersebut sebagai hasil karyanya yang paling berkesan. Tapi, sialnya, mural bertema “Re-solusi Jakarta 300cc” yang ia buat itu dihapus oleh pemda setempat pada 22 Februari. “Pemda sialan! Gak tau apa kalau bikinnya pake keringat dan darah hiks..hiks....” begitulah ungkapan emosional Aprilia dalam blog-nya tadi.


Di blog tersebut, kita bisa melihat foto-foto seputar aktivitas Aprilia di dunia seni, terutama street art. Melalui blog-nya itu, si penggemar musik rock dan punk ini mencoba “bertutur” tentang ajang-ajang yang pernah ia ikuti, mulai dari UrbanFest 2007 di Pantai Karnaval Ancol, Djarum Black Urban Art Final Exhibition, Street Art Exhibition oleh Bank Mandiri, Djarum Black Urban Art di TOIMOI Kemang, hingga Nokia Dance Twista.


Foto yang paling banyak ditampilkan di blog itu adalah foto saat dirinya tengah menghias bajaj. Torehan gambar berbentuk gajah berbelalai panjang yang berwarna-warni (seolah-olah seperti gajah luar angkasa) serta tulisan “Apriel” di kulit luar bajaj itu seolah menjadi ciri khas karya-karyanya. “Wah pasti indah banget kalau semua Mr. Bajaj gue gambar...hehehehehe,” begitulah komentarnya tentang foto bajaj-bajaj yang sudah ia “make up”.


Ada juga foto tentang aksi “nekat” Aprilia saat “mengebom” sebuah gerbong kereta di daerah Bekasi pada suatu malam. “Sebenarnya kejadian ini sudah lama banget, tapi gue baru dapat fotonya sekarang. Gak tau siapa yang punya ide. Kita diundang untuk ngebom kereta api di Bekasi. Tapi yang ini gak bakal diulangi deh. Kapok dikejar-kejar anjing dan orang sekampung. Sedih juga sih kalau cuma bisa bikin throw up saja di gerbong itu, soalnya keburu dikejar-kejar `ANJING`,” begitulah isi tulisan yang ia bubuhkan di bawah foto tersebut.


Gajah Luar Angkasa, Oprah, dan Komik

Tak lupa, di blognya itu Aprilia juga memasang beberapa foto hasil karyanya yang tidak bermediakan tembok, misalnya pada baju kaos, helm, kertas karton, sterofoam, dan permukaan meja belajar kuliah. Dan di hampir semua karyanya tadi, bentuk gambar yang ia buat tidak jauh dari kepala gajah luar angkasa serta makhluk-makhluk dari luar angkasa.


Bomber yang selalu menampilkan banyak warna pada setiap karyanya ini punya satu cerita lucu seputar pengalaman membuat mural. “Waktu itu saya sedang membuat graffiti di Bogor bersama rekan-rekan. Kami membuat graffiti di tembok pertokoan, tapi saya lupa nama daerahnya. Tiba-tiba kami didatangi orang-orang kampung sana. Kami bilang bahwa gambar itu harus diselesaikan, karena kalau tidak diselesaikan akan kelihatan jelek. Kalau si empunya toko nantinya komplain, kami meminta mereka menghubungi kami. Lalu saya memberi alamat dan nomor telepon. Tapi, lucunya, setelah graffiti itu selesai, orang-orang kampung tadi malah berfoto-foto di depan graffiti yang kami buat tadi,” paparnya mengenang.


Anehnya, meski sering mengikuti berbagai ajang dan festival street art, si penggila acara Oprah Winfrey Show ini tidak pernah sekalipun mendapatkan predikat sebagai pemenang. Malah, cewek berambut panjang yang tidak suka nonton sinetron ini lebih sering didaulat menjadi juri dalam beberapa festival, atau diundang untuk menjadi mural artist.


Tapi, walaupun tak pernah meraih trofi piala selama bergelut di dunia seni graffiti dan mural, si penggemar buku komik ini tidak pernah berkecil hati. Bahkan, khusus seni yang masih dianggap liar ini, Aprilia memiliki keinginan yang dianggap “luhur” oleh para pecinta graffiti. “Saya ingin pemerintah melegalkan graffiti dan mural. Sebagai konsekuensinya, para muralis atau graffitier harus dapat mempertanggungjawabkan karya yang mereka buat kepada masyarakat. Jadi, tidak asal corat-coret saja.” ujarnya.


Foto: Aprilia Kartini Streit


Print
Kirim
Cetak PDF
Arsip
RSS


  More Who's Who
Ricky Yanuardi
Céfiné, begitulah tagging yang tertera pada kebanyakan grafiti buah karya Ricky Yanuardi. Tapi terkadang ia juga hanya membubuhkan kata “FINE” di sisi bawah atau di samping karya seni semprotnya itu. Jumlah karyanya sudah mencapai ratusan. Grafiti-grafiti buatannya itu ia tampilkan dalam sebuah blog: www.cefine.blogspot.com. Dalam blog-nya itu, kita bisa melihat media apa saja yang pernah dijadikan sebagai “korban” kreativitas Ricky.

Suyadi Pak Raden
Suyadi Pak Raden
Suyadi adalah sosok seniman serba bisa, dia menulis, melukis, menggambar, mendongeng, membuat film dan juga mendesain. Sekitar tahun 1960/70-an Suyadi aktif mengajar di jurusan Seni Grafis di ITB. Karya-karyanya setia mengikuti perjalanan pameran-pameran IPGI (baca: Sejarah IPGI-Upaya Menumbuhkan Apresiasi > Ikatan Perancang Grafis Indonesia (IPGI): 1980-1994 > Brief History of Indonesian Graphic Design > Indonesian Graphic Design).

RSS