Pasar Kreasi
Photography
Agus Leonardus

Mimpi Rakyat Ada di Slebor Becak

Agus Leonardus

Sebuah foto bisa menohok nurani. Seorang nenek tua naik becak dengan muatan penuh. Ia berdiri dengan tangan kanannya memegangi muatan itu. Wajahnya menunduk ke bawah. Mulutnya menyiratkan senyuman. Tangan kirinya yang menjulur lurus ke bawah, tampak urat-uratnya mencuat, seperti mewartakan beban hidup yang teramat berat yang lama dilakoninya. Pakaiannya khas orang Jawa dari kalangan rakyat jelata. Berkebaya dengan jarit gendhong menyilang di pundaknya. Di sudut lain, terpajang foto hitam-putih berukuran besar memanjang. Foto itu merekam keluarga pengayuh becak yang tengah berjalan entah ke mana. Seorang lelaki setengah baya tampak mendorong becaknya dengan muatan penuh. Sementara, seorang perempuan muda sambil menggendong anak kecil bersama seorang anak laki-laki yang mulai berangkat besar tampak mengikuti di belakang si lelaki itu.
Foto: Agus Leonardus
Tak kalah menariknya, sebuah foto berwarna dalam ukuran super besar, menyedot perhatian. Tiga orang pengayuh becak tampak sedang melongok sesuatu peristiwa di balik tembok. Tiga becaknya dijungkirkan dengan roda belakang tersandar di pilar tembok itu. Dua orang pengayuh becak itu memanfaatkan posisi becak itu untuk menahan tubuhnya melihat sesuatu di balik tembok. Sementara, seorang lainnya tampak nongkrong santai di atas tembok. Konon, adegan ini dibidik di stadion Kridosono Yogyakarta.
Foto: Agus Leonardus
Apa yang hendak dikatakan ketika kita menatap pemandangan semacam itu? Sadar atau tidak sadar, foto itu diam-diam menggedor kesadaran siapapun atas sebuah potret ‘pergulatan hidup’. Sebuah potret hidup yang jauh dari kesan gebyar, teralienasi dari silang-sengkarut omongan politik, dan sering terlupakan dalam medan wacana. Foto itu, seakan menampar mulut banyak orang, yang acap kali berbuih-buih membicarakan kebudayaan dunia, tapi ternyata ia alfa mewacanakan kebudayaan masyarakat bawah. Banyak orang terlanjur terjebak pada desain kerja kebudayaan orang besar dan berkapital, sementara mereka (mungkin juga kita) cenderung tak menggubris persoalan kebudayaan orang miskin. Foto-foto itu bersama karya foto lainnya terpajang rapi dalam pameran fotografi karya Agus Leonardus, di Perpustakaan Umum dan Arsip Kota Malang. Pameran bertajuk ‘Waton Urip” (27 Januari hingga 5 Februari 2006) itu mempresentasikan sejumlah foto karya Agus yang telah lama malang-melintang di genre fotografi seni. Menariknya, tajuk “Waton Urip” itu diambil dari tulisan di salah satu slebor becak yang dibidiknya.
Foto: Agus Leonardus
“Waton Urip” juga dipakai judul sebuah buku apik hasil kolaborasi tiga tokoh dengan spesialisasi berbeda. Sindhunata didapuk menulis feature di balik lakon hidup pengayuh becak, Ong Hari Wahyu didaulat merancang perwajahan buku, sedangkan Agus Leonardus kebagian memotret momentum seputar kehidupan pengayuh becak di sekitar Yogyakarta. Jadinya, memang bukan sekadar buku dengan satu daya tarik. Tetapi, buku itu mencerminkan eksplorasi tata grafis yang menawan, feature yang menyentuh, dan karya foto yang bukan sekadar seni, komposisi, dan cahaya, tetapi juga saat yang menentukan (the decisive moment).Memang, fotografi Agus kali ini segera mengingatkan kita pada karya Cartier-Bresson, si jawara fotografi asal Perancis, yang pernah mengabadikan saat-saat menentukan di sepenggal sejarah Indonesia. Saat Bung Karno dengan tangan mengepal dan mata menatap tajam di depan lukisan S. Soedjojono. Saat serdadu Belanda berjalan didampingi wanita pribumi. Saat kerumunan orang Bali tengah bergotong-royong di seputar pura.
Foto: Agus Leonardus
Saat-saat menentukan itu juga terekam kuat dalam setiap bidikan kamera Agus. Saat pengayuh becak itu mengayuh pedalnya. Saat pengayuh becak tertidur lelap di atas jok becak. Saat pengayuh becak mengangkut muatan penuh. Saat pengayuh becak duduk santai menunggu penumpang. Saat pengayuh becak memompa ban. Dengan mengabadikan saat-saat menentukan itu, sepertinya Agus memahami penuh kata-kata Cartier-Bresson – “Memotret itu sendiri tidak ada artinya, melihat adalah segalanya”.Bagi fotografer yang telah memulai karirnya sejak 1977, memang telah terbukti memiliki kepekaan melihat dengan sebuah visi. Artinya, di situ terkesan kuat Agus tidak sekadar melihat. Di karya-karya itu terkesan ada gerak intuisi, penghayatan pada objek, sudut lihat yang memperhitungkan komposisi visual, dan segi semantik dari objek yang dibidik. Lihatlah, misalnya, sebuah foto yang sengaja mengambil detail tangan kekar pengayuh becak yang sedang memegang sadel dan stir becak. Dengan meniadakan bagian lainnya, Agus tampaknya ingin fokus pada makna keperkasaan fisik tangan itu sendiri. Tangan itu seperti saksi, jejak, dan sekaligus indeks yang dapat menarasikan liku-liku lakon hidup pengayuh becak itu. Dari tangan itu, seolah sedang ada tekanan makna, bahwa di situlah terekam jejak hidup seorang pengayuh becak, yang tak lepas dari tekanan hidup yang dirasakan teramat berat.
Foto: Agus Leonardus
Namun, dia dengan segala kepasrahannya, lakon hidup itu tetap dijalaninya dengan “nrimo”, “sabar”, “tegar”, “jujur”, “bregas”, “pangestu”, dan “ojo stres”. Kata-kata itu tertulis pada slebor-slebor becak mereka. Kata-kata bernada ‘filosofis’ dan akrap dengan ruang batin para pengayuh becak itu, tampak sebagai magnit bagi Agus, karena itu ia lantas mengabadikannya. Dengan kata-kata itu, ada kesan kuat, bahwa di situlah segala impian hidup rakyat bawah diekspresikan. Di slebor becak itu, terlihat panorama alam pikiran para pengayuh becak yang merepresentasikan rakyat bawah. Kata-kata itu bagaikan sebuah pamor yang dapat menggerakkan semangat hidup para pengayuh becak. Kata-kata itu juga mencerminkan etika atau moralitas hidup yang senantiasa diugemi-nya, khususnya di kalangan pengayuh becak. Melalui foto-foto slebor becak itu, ternyata terekam sebuah realitas, sebuah alam pikiran, dan sebuah entitas masyarakat yang perlu kita pahami bersama.Seperti yang dikatakan Cartier-Bresson,”Fotografi adalah menahan napas di saat seluruh pancaindra diri kita berkonsentrasi pada realitas yang senantiasa mengelakkan diri. Itulah saatnya ketika keberhasilan kita dalam menangkap kesan itu menjadi suatu kebahagiaan yang intensif, secara fisik dan intelektual”. Dalam konteks ini, Agus melalui karya-karyanya itu hendak menyuguhkan sebuah kerja intelektual, sebuah kepekaan intuisi dalam menghadirkan realitas (baca: realitas fotografis), yang telah mengalami reduksi, daya kritis, dan pembingkaian makna yang didasarkan atas pilihan objek-objek tertentu sebagai bahasa simboliknya.
Foto: Agus Leonardus
Saya merasakan bahwa Agus tidak sekadar memotret realitas tanpa tafsir. Ia justru dengan foto-foto itu tengah menafsirkan sebuah realitas yang diamatinya. Karenanya, foto-foto itu betapapun berhasil menggambarkan sebuah realitas yang benar-benar ada di sekeliling kita, tapi foto-foto itu sebenarnya sebuah bahasa simbolik Agus untuk menyatakan sesuatu. Realitas itu telah ditransformasikan dalam bentuk yang lebih kaya, lebih fokus, lebih menyentuh, dan lebih merangsang sensibilitas. Di sini, akhirnya kita menjumpai sebuah ‘realitas baru’, yaitu ‘realitas fotografis’ yang dibaliknya terekam suatu ideologi.Dengan kehadiran karya-karya fotografi Agus Leonardus, dunia seni rupa kita diperkaya oleh ragam fotografi (seni), yang semula agak diterima alot memasuki wilayah seni rupa. Namun, dengan berjalannya waktu dan berkembangnya wacana seni rupa, serta semangat perupa bereksplorasi dengan berbagai medium, tak dapat dielakkan fotografi semakin akrab diterima sebagai genre seni rupa. Dan Agus Leonardus sebagai salah satu tokoh fenomenalnya.
Print
Kirim
Cetak PDF
Arsip
RSS


  More Who's Who
emory kristof
SELAMA ini fotografi selalu dipandang sebagai cabang seni. Namun, dalam dunia global seperti sekarang ini dimana sebuah keahlian bisa dipandang dari sisi mana pun, bisakah fotografi dipandang sebagai cabang teknologi?

Gotot Prakosa
Sejak demam animasi mulai melanda negeri ini, Gotot Prakosa (51), kerap menjadi salah satu sumber informasi yang paling sering dicari atau dijadikan narasumber seputar keberadaan perjalananan panjang animasi tanah air. Maklum, lelaki kelahiran Padang, 10 Desember 1955, yang akrab dipanggil Gotot ini adalah Ketua ANIMA (Asosiasi Film Animasi Indonesia). Selain itu, sejak Mei 2006 lalu, ia juga menjadi Board Member ASIFA (Asosiasi Film Animasi Internasional) untuk wilayah Asia Tenggara.

RSS