

Gotot Prakosa
| Jauh sebelum marak film animasi, ia sudah bergelut dengan dunia ini. Menurutnya, Indonesia memiliki akar animasi yang kuat. Kini soalnya bagaimana menghidupkan kembali akar itu?Sejak demam animasi mulai melanda negeri ini, Gotot Prakosa (51), kerap menjadi salah satu sumber informasi yang paling sering dicari atau dijadikan narasumber seputar keberadaan perjalananan panjang animasi tanah air. Maklum, lelaki kelahiran Padang, 10 Desember 1955, yang akrab dipanggil Gotot ini adalah Ketua ANIMA (Asosiasi Film Animasi Indonesia). Selain itu, sejak Mei 2006 lalu, ia juga menjadi Board Member ASIFA (Asosiasi Film Animasi Internasional) untuk wilayah Asia Tenggara.Seiring maraknya kembali dunia perfilman tanah air beberapa tahun terakhir, jadwal mantan Ketua Komite Film Dewan Kesenian Jakarta itu, selalu disesaki dengan beragam seminar dan penjurian seputar dunia film. Dalam sebulan, ia bahkan bisa berada di beberapa tempat untuk maksud dan tujuan yang sama. Bukan tanpa alasan, jika alumni Program Sastra-Humaniora, Pasca Sarjana UGM Yogyakarta ini terlihat begitu getol menyuarakan nasib animasi tanah air di berbagai kesempatan. Pria ini memang bukan orang baru di dunia yang satu ini. Pekerja Film alumni Fakultas Film dan Televisi, Institut Kesenian Jakarta (FFTV-IKJ) itu, sudah amat mahfum dengan seluk-beluk perjalanan dunia animasi tanah air, yang baginya harus segera dicarikan solusinya. “Saat ini, perkembangan animasi di Indonesia cukup menyenangkan. Kita bisa menemukan ratusan film animasi yang berbeda-beda dan berasal dari berbagai kalangan dan juga daerah. Itu menandakan pertumbuhan animasi sudah sangat pesat dan berkembang dengan baik,” paparnya bersemangat. Menurut Gotot, animasi adalah sebuah ilmu pengetahuan yang tak pernah henti tumbuh menyeimbangi kelahiran film Indonesia secara umum. “Saya kira, jika nanti semakin banyak film animasi dikenal oleh masyarakat, pasti akan disukai oleh masyarakat penggemarnya. Mengingat masyarakat kita, sebetulnya sangat senang dengan produk lokalnya,” ungkap Visual Designer untuk Film Tjoet Nyak Dien ini, dengan nada optimis. Pasalnya, pangsa pasarnya tak terbatas. Dapat dikonsumsi anak-anak sampai orang dewasa, meski kesan film animasi dalam kenyataannya hanya untuk anak-anak. Sampai saat ini pengertian film animasi di Indonesia adalah film kartun. Sementara, sebenarnya film kartun itu hanya merupakan salah satu teknik untuk mengungkapkan sebuah tujuan atau ekspresi. “Makanya, saya sangat berharap film animasi ini dapat berkembang dengan peningkatan kualitas yang semakin baik dan variatif,” jelasnya lagi. Wayang Sumber KreasiSeperti diakuinya,ide garap film animasi secara umum masih bersumber dari khasanah tradisi budaya lokal dalam pembuatan materi cerita film animasi. Karenanya, ia setuju jika film juga bisa berfungsi menjadi alat kampanye kebudayaan. Akan halnya, Amerika (Walt Disney), Anime atau film animasi Jepang bergaya manga, bahkan kini film animasi Cina mulai ikut memproduksi. Hampir semua memanfaatkan pendekatan budaya dalam filmnya, yang berangkat dari cerita rakyat seperti legenda atau mitologi. Harus disadari juga, film animasi yang beredar di televisi nasional masih dikuasai oleh pasar impor. Suatu saat nanti kondisi ini harus berubah, mengingat jumlah SDM kita yang besar dan pasar yang belum tergarap. Mungkin kita harus belajar dari mereka dan juga harus berbuat hal yang sama. “Film-film impor ini bisa bertahan karena memiliki modal dan tenaga besar yang sabar menaklukkan waktu dalam sebuah sistem industri hiburan. Seperti halnya Jepang yang kini sudah melampaui Amerika.” Untuk itu, film animasi harus terus selalu diperjuangkan dan disosialisasikan. Apalagi menurut pengalamannya, sejarah film animasi Indonesia memiliki akar yang kuat dalam pertunjukan wayang kulit dengan permainan bayangan (Hyang). Meski dalam perjalanannya kemudian ada pengaruh India saat masuknya Hindu dan Budha. Belum lagi cerita penyebaran agama yang memanfaatkan wayang agar mudah diterima oleh masyarakat yang sudah memiliki tradisi yang kuat dari wayang kulit. Dilanjutkan zaman Islam yang memberi pengaruh perkembangannya, serta pada masa penjajahan Portugis dan Belanda. Belakangan ini, selain Festival Film Animasi Indonesia (FFAI) yang digagasnya setiap dua tahun sekali, juga muncul beberapa festival film animasi dan pekan film animasi di berbagai kota yang cukup memberikan nilai-nilai positif dalam perkembangan seni film animasi, seperti Hellomotion, Konfiden, dan sebagainya. Ia melihat, meski masih sekadar pelengkap, animasi masih memiliki ruang bagi penontonnya. “Hendaknya, sebagai bagian dari industri hiburan, seharusnya film animasi diletakkan sebagai bagian dari perkembangan film live-action.” Selain itu, dalam pencarian bentuk, untuk mengembangkan film animasi secara mandiri, independen dan memihak kepada seni yang utuh, animator juga harus memperhatikan sisi seninya. Makanya, para pembuat film eksperimental harus terus tumbuh sebagai sparing partner. Sisi ini membuatnya tak terkesan seragam dalam menghasilkan karya seni. “Saya masih percaya para eksperimentalis masih ada dan di Indonesia anehnya justru berdiri dan tumbuh berbarengan dengan industri komersial,” sergah Gotot dengan nada serius. Masih Terus BerbagiSejak kecil hingga remaja, salah satu putera pasangan Drs. Hengky Soemarso dan Penny Soedarpendah itu, memang dibesarkan dalam tradisi lingkungan Perguruan Taman Siswa, Yogyakarta. Ia kemudian sempat juga serius di Jurusan Seni Lukis, Sekolah Menengah Seni Rupa Indonesia (SSRI). Selepas dari Yogyakarta, Jakarta menjadi tujuan hidupnya, sembari terus ikut berbagi dan menimba ilmu. Setelah lebih kurang enam tahun, ia lantas melanjutkan studi ke Sekolah Film LPKJ-TIM, untuk bidang Penyutradaraan (D3) dan Animasi Eksperimental (D4). Perkenalannya dengan dunia animasi ini sebenarnya lahir tanpa sengaja. Pasalnya, karir pasangan hidup dari Susy Natalia ini, bermula dari kebiasaannya melukis. Kesenangannya itu kemudian ia salurkan saat mengumpulkan beberapa seluloid film milik Syumandjaya. Selanjutnya dari seluloid bekas ini, ia mulai menggambar beberapa cerita yang membentuk sebuah story-board dan kemudian dijadikan film kreasinya. Semua itu ia lakukan selama studi di LPKJ-TIM, selain juga ikut menjadi salah satu tenaga pengajarnya sejak tahun 1978. Akhirnya ia mendapat kesempatan khusus untuk belajar animasi di Filipina dan Singapura. Kemudian dilanjutkan ke Swiss (1984), selama satu tahun. Di sini ia bertemu dengan dua pekerja animator handal, Robi Engler (Swiss), dan Carl Fugun (Austria-Jerman), dari Studio Imagination, di Kota Lousanne, Swiss. Dua rang ini banyak membuka wacananya dalam memahami dunia animasi. Kini, sekitar 30 karya film pendek eksperimentalnya yang dibuat tahun 1970-an, sejak tahun 1991 sudah direservasi ulang oleh National Film Archive, Canberra, Australia sebagai bahan studi khusus di Monash University, dan beberapa universitas lainnya di Australia. Kemunculannya karya-karyanya di akhir tahun 1970-an cukup memberi catatan tersendiri dalam perjalanan karirnya. Mengingat di era sebelumnya, Indonesia lebih banyak dikenal dengan garapan-garapan film dokumenter yang banyak menjual eksotisme seni dan budaya. Tak heran, jika karya-karya film eksperimentalnya banyak dianggap aneh oleh beberapa pengamat film saat itu. Beberapa karya garapnya yang sempat mengemuka adalah Lukisan Warna, Telur & Singkong, dan Jakarta-Bandung. Sebagai pekerja seni, selain akrab dengan dunia produksi, Ketua Program Studi Animasi FFTV-IKJ ini, sering menjadi langganan juri untuk berbagai festival bergengsi dari kelas independen sampai komersil setingkat Festival Film Indonesia (FFI). Kiprahnya di dunia film secara keseluruhan juga sudah diakui baik di tingkat nasional maupun mancanegara. Beberapa penghargaan itu, di antaranya datang dari ajang Festival Film Mini-DKJ (1976-1981), dan Experimental Work Film (1987), dari Art Houses Association (Canada), serta International Film Forum Jerman. Energi ayah dari putera semata wayang, Nur Langit Lembayung itu, seolah tak pernah habis untuk mensosialisasikan animasi. Selain masih terus keliling berbagi ilmu, ia juga masih terbilang aktif di sejumlah tim produksi sebagai sutradara. Selain itu, ia juga pernah ikut menggarap beberapa film layar lebar besutan sutradara Teguh Karya (alm), Eros Djarot, dan Slamet Rahardjo. Dari sinilah mereka kemudian sepakat mendirikan PT. Ekapraya Tata Cipta, yang digawangi oleh Eros Djarot, Slamet Rahardjo, Rahim Latif, dan Christine Hakim. Saat ini, untuk film animasi masih diperlukan kampanye secara terus-menerus di berbagai media. Menutup perbincangannya, ia masih sempat memberikan tips dalam mencari peluang dan membangun jaringan. “Para penggiat animator atau institusi yang terlibat dalam dunia animasi, sebaiknya bergabung dalam organisasi sejenis. Karena dengan demikian akan lebih mudah menciptakan jejaring dan mendapatinformasi seputar perkembangan dunia animasi,” tandasnya memberi pesan. |
More Who's Who